Alimul Jinni Wasyayathin
Kepercayaan terhadap Makhluk Ghaib
COLLECTION
Koleksi otomatis dari Perpustakaan
Kepercayaan terhadap Makhluk Ghaib
Buku ini adalah panduan berharga bagi setiap Muslim yang ingin memahami dan menghargai khilafiyah dalam sholat. Dengan bahasa yang ringan namun berbobot, buku ini mengajak kita untuk melihat perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai pemicu perpecahan. Di tengah banyaknya perbedaan pendapat dalam tata cara ibadah, buku ini hadir untuk menegaskan bahwa keberagaman dalam Islam adalah sebuah kekayaan yang perlu disikapi dengan lapang dada dan pemahaman yang lebih mendalam. Penulis dengan cermat menyajikan berbagai perspektif dari para ulama mazhab mengenai bacaan dan gerakan dalam sholat sehari-hari. Buku ini bukan sekadar kajian akademik, tetapi juga ajakan bagi umat Islam untuk lebih menghargai ijtihad para ulama serta menghindari fanatisme yang berlebihan terhadap satu pandangan saja. Dengan demikian, pembaca dapat memperoleh wawasan yang lebih luas serta sikap yang lebih toleran dalam menyikapi perbedaan di tengah masyarakat. Buku ini bukan hanya memberikan pemahaman, tetapi juga menghadirkan ketenangan bagi setiap Muslim dalam menjalankan ibadah. Ditulis dengan pendekatan yang mendidik dan menyejukkan, buku ini layak menjadi bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin memperdalam pemahaman tentang sholat dan menghargai perbedaan dalam praktiknya. Semoga kehadiran buku ini membawa manfaat bagi umat Islam dalam menjalani ibadah dengan keyakinan dan kedamaian hati. (UNISMA PRESS)
Bahasa Betawi yang dikenal dengan berbagai nama: bahasa Betawi, dialek Jakarta, bahasa Melayu local yang hidup di bumi Nusantara ini. Untuk mengenal bahasa ini lebih baik diketengahkan di awal buku ini situasi kebahasan dan kedudukan bahasa ini di antara bahasa Melayu lokal lainnya. Sejalan dengan sejarahnya, bahasa Betawi memperlihatkan cirri-ciri khas bahasa Melayu Timur, di samping cirri-ciri umum bahasa Melayu lainnya. Kekhasannya yang tampak, baik dalam struktur fonologi, morfologi, maupun sintaksisnya merupakan bahasan pokok buku ini. Selain itu, buku ini bukan hanya membahas kehadirannya sebagai bahasa perhubungan antar penduduk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, melainkan secara sepintas dibahas juga tentang lahirnya sejumlah sastra naskah yang tampaknya luput dari perhatian para ahli dan para pemerhati lainnya. Selain kaya akan sastra lisan dan sastra naskah tersebut, sastra tulis Betawi juga diperkaya dengan berbagai karya kontemporer yang dimuat dalam surat kabar sejak awal abad ke-19. Perannya yang amat penting dalam perkembangna bahasa Indonesia dibahas dalam bab penutup buku ini yang disertai lampiran yang memperlihatkan betapa banyak kata-kata bahasa Betawi dalam Bahasa Indonesia yang oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia ditandai dengan JK.
Judul : SEJARAH DAN PERKEMBANGAN DAKWAH DI KERINCI Penulis : Dr. Ahmad Zuhdi, M.A., Ravico, M.Hum., Herry Prasetia Reski, S.Sos., Suhardiman, S.Sos., Roni Oka Frayoga, S.Sos Editor : Anggi Desviana Siregar Ukuran : 15,5 x 23 cm Tebal : 144 Halaman ISBN : 978-623-497-429-4 Sinopsis Sejarah perkembangan Islam di Kerinci masih perlu dikaji secara mendalam. Jika dikaji lebih mendalam masih dapat ditemukan beberapa perbauran antara Islam dan adat-istiadat setempat. Secara geogerafis Kerinci yang merupakan wilayah tertinggi di Sumatera, menjadi sangat sulit di akses pada masa lalu. Transportasi menjadi sulit mengingat jalur-jalur yang ada melalui sungai atau perbukitan. Pertanyaan yang paling mendasar ialah bagaimana jalur masuknya Islam dan bagaimana jalur Islamisasi yang berkembang di Kerinci? Berbagai hipotesis yang lahir dari pertanyaan tersebut. Terlepas dari semua hipotesis tersebut, peran tokoh-tokoh Islam yang melakukan Islamisasi di Kerinci menjadi hal yang sentral dalam membangun peradaban Islam di sini. Buku yang berjudul Sejarah dan Perkembangan Dakwah di Kerinci, merupakan hasil kajian yang ditulis oleh tim. Buku ini mencoba memberikan historiografi Islam di Kerinci yang tersusun dengan tema-tema khsusu terutama kajian tentang tarekat dan organisasi ke-Islaman yang berkembang di Kerinci. Buku ini juga mengambarkan prosesi dakwah yang juga digunakan oleh Ulama-ulama terdahulu dalam menanamkan nilai-nilai ke-Islaman bagi masyarakat setempat.
Di kalangan Ahlusunnah wal Jamaah, atau sering juga disebut kaum Sunni, terdapat empat imam madzhab yang namanya sangat populer. Keempat imam madzhab itu adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Keempatnya merupakan pioner peradaban Islam di masa kejayaan Islam yang lalu, sekaligus imam besar di bidang ilmu Fiqh dan Hadits hingga masa kini. Tentu saja, keempat imam madzhab tersebut bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah sosok-sosok manusia hebat. Kealiman mereka di bidang ilmu Fiqh dan Hadits sangatlah mumpuni. Karya-karya mereka menjadi rujukan utama bagi para penggali ilmu, bahkan menjadi landasan laku ibadah bagi jutaan umat Islam di seluruh dunia. Nah, buku yang luar biasa ini hadir memberikan ulasan tentang perjalanan hidup keempat imam madzhab tersebut, sejak kecil hingga Allah memanggil mereka ke hadirat-Nya. Tentu saja, diulas pula rahasia sukses belajar dan pahit getirnya mereka memperoleh ilmu pengetahuan, khususnya ilmu Fiqh dan Hadits, sehingga menjelma menjadi sosok yang namanya dikenang hingga saat ini. Selamat membaca!
Para fuqaha’ bersepakat, bahwa thalaq merupakan hak seorang suami. Mereka juga sepakat bahwa thalaq tidak boleh dijatuhkan terkecuali jika memang diperlukan. Namun demikian, mereka berbeda pendapat tentang hukum asal thalaq: apakah merupakan sesuatu yang hendaknya dihindari ataukah merupakan sesuatu yang mubah (boleh-boleh saja).
Bolehkah wanita menjabat sebagai hakim? Masalah ini termasuk yang diperselisihkan di kalangan para fuqaha’ dahulu. Dimana segolongan dari mereka –yakni dari kalangan madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali– berpendapat tentang tidak bolehnya seorang wanita menjabat sebagai hakim.
Buku yang ada di tangan pembaca ini merupakan hasil dari upaya ilmiah dalam menggali, mengelaborasi, dan memaparkan warisan intelektual Islam yang agung, khususnya dari perspektif Mazhab Syafi’i. Mazhab ini, yang telah menjadi rujukan utama di berbagai kawasan dunia Islam, termasuk Nusantara, kaya akan kaidah-kaidah fikih yang tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga praktis dalam menjawab dinamika kehidupan umat. Kaidah fikih (al-qawā‘id al-fiqhiyyah) dalam tradisi Mazhab Syafi’i memiliki kedalaman metodologis dan keluasan aplikasi yang sangat relevan untuk digunakan dalam merespons persoalan-persoalan kontemporer, baik di ranah ekonomi, politik, sosial, hukum, maupun budaya. Buku ini mencoba mengangkat kaidah-kaidah tersebut dari sisi teoretis sekaligus aplikatif, agar dapat dijadikan rujukan oleh para akademisi, praktisi, mahasiswa, dan siapa pun yang ingin memahami bagaimana hukum Islam dapat memberikan solusi atas problematika modern. Dengan pendekatan tematik dan analitis, buku ini menyajikan pemetaan kaidah secara sistematis, dilengkapi contoh-contoh penerapan dalam berbagai bidang kehidupan. Harapannya, buku ini dapat memperkuat pemahaman terhadap prinsip-prinsip dasar syariat Islam dan menjembatani antara teks klasik dan realitas kekinian.
Tidaklah berlebihan bila Imam Syafi’i menamai kitabnya Al-‘Um, yang berarti kitab Induk. Persoalan-persoalan fiqih keseharian mulai dari ibadah, munakahah, muamalah, dan siyasah, diuraikan detail dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas, dalam kitab yang menjadi rujukan utama ahlu sunnah wal jama’ah yang bermazhab Syafi’iyah ini. Bukan hanya itu, ulama-ulama sesudahnya pun menempatkan kitab ini sebagai rujukan utama dalam mengembangkan fatwa-fatwa fikih kontemporer. Betul bahwa kitab al-‘Um ini menjadi rujukan setiap muslim yang bermazhab Syafi’iyah. Akan tetapi, siapa pun, sesungguhnya, perlu mempelajari, mengkaji, dan memahami, fatwa-fatwa Imam Syafi’i yang ada dalam kitab ini. Sebagai pijakannya, kita laksanakan pesan Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa, “Jika sebuah hadis bertentangan dengan perkataanku, maka buanglah perkataanku di belakang tembok.” Tentunya, lebih-lebih lagi bila bertentangan dengan Al-Qur’an. Bila semua mengedepankan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tidak akan ada lagi perselisihan di antara umat Islam hanya karena perbedaan pemahaman. Insya Allah. Buku persembahan Republika Penerbit [Republika, bukurepublika, Penerbit Republika]
Kekristenan pada abad ke-1 mencakup sejarah formatif Kekristenan dari awal pelayanan Yesus (sekitar 27-29 M) hingga kematian Dua Belas Rasul terakhir (sekitar 100) dan dengan demikian juga dikenal sebagai Apostolik Usia. Kekristenan awal berkembang dari pelayanan eskatologis Yesus. Setelah kematian Yesus, para pengikutnya yang paling awal membentuk sekte mesianik Yahudi apokaliptik selama periode Bait Suci Kedua abad ke-1. Awalnya percaya bahwa kebangkitan Yesus adalah awal dari akhir zaman, kepercayaan mereka segera berubah pada kedatangan Yesus kedua yang diharapkan dan dimulainya Kerajaan Allah di kemudian hari. Isi: Sejarah Kekristenan, Latar belakang sejarah Perjanjian Baru, Periode Bait Suci Kedua, Pelayanan Yesus, Kekristenan pada abad ke-1.
"Buku ini berguna bagi teoretisi sosial dan sejarawan. Ditulis dengan gaya yang lancar dan enak dibaca; menunjukkan kemampuan penulisnya untuk menangkap persoalan pokok tentang isu teoretis dan menguraikannya dengan ringkas dan akurat… Burke memberikan contoh-contoh yang kaya dari zaman kuno hingga sejarah kontemporer dan mencakup kasus di berbagai belahan dunia… Sebuah buku bermutu yang langka dan pantas disarankan sebagai bacaan wajib bagi mahasiswa yang serius di bidang sejarah dan teori sosial di tingkat pendidikan mana pun. Tetapi buku ini tentunya juga menarik bagi khalayak pembaca umum." Robert W. Scribner. Clare College, Cambridge. Sebuah karya yang sangat jernih dan luas cakupannya… Menawarkan pembacanya akses yang cepat ke isu-isu kunci. Ringkas dan tajam tentang masalah-masalahnya. Pada saat agenda pluralisme dan sejarah global masih diperdebatkan di perguruan tinggi, penulis buku ini menawarkan pendekatan yang komprehensip terhadap masalah-masalah ini di mana semua pihak bias memetik manfaat darinya. Herman Lebovics. SUNY Stony Brook
Jangan pernah lupakan sejarah! Di buku ini kita menemukan pentingnya sejarah dalam Islam, khususnya sejarah Ka’bah yang menjadi kiblat umat Islam dunia. Buku ini menjawab 1001 pertanyaan tentang Ka’bah dari masa ke masa. Dari awal mula keberadaannya, paganisme di sekitarnya, serangan terhadapnya, struktur dan isinya, sejarah Hajar Aswad dan Kiswah Ka’bah, misteri sumur zamzam, hingga peristiwa-peristiwa penting dan keajaiban di sekitar ka’bah. Ditulis dari sumber yang valid dengan gaya bahasa yang menarik, buku ini bacaan terindah bagi umat islam yang ingin lebih dalam mengetahui sejarah dan makna keberadaan rumah suci Allah. Penulisnya sendiri merupakan pakar dalam bidang ini, maka tak diragukan lagi kapasitas keilmuannya.
Islmisasi Nusantara merupakan suatu proses yang sangat penting dalam sejarah Islam di Indonesia, dan juga dianggap sebagai permasalahan yang paling tidak jelas. Ketidakjelasan ini antara lain terletak pada pertanyaan kapan Islam datang, dari mana Islam berasal, siapa yang menyebarkan Islam di Nusantara pertama kali dan sebagainya. Karenanya sampai sekarang persoalan ini masih senantiasa menjadi ajang perdebatan para ahli sejarah, meskipun telah diadakan beberapa kali seminar yang membahas masalah tersebut. Pada tahun 1963 para ahli berkumpul di Medan untuk membicarakan persoalan ini secara akademik. Perdebatan pun menjadi sengit yang berujung pada dua pendapat. Tentang waktu dan asal usul Islam. Sejak masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara tentu memerlukan proses yang sangat panjang dan melalui saluran-saluran Islamisasi yang beragam, seperti perdagangan, perkawinan, tarekat (tasawuf), Pendidikan dan kesenian.Pada tahap awal proses Islamisasi, saluran perdagangan sagat dimungkinkan. Hal ini sejalan dengan kesibukan lalu lintas perdagangan abad ke 7 sampai abad ke 16, sebagaimana telah diuraikan di atas. Para pedagang dari Arab, Persia, India dan Cina ikut ambil bagian dalam aktivitas perdagangan dengan masyarakat di Asia Barat, Timur dan Tenggara. Saluran Islamisasi dengan media perdagangan sangat menguntungkan. Hal ini disebabkan karena dalam Islam tidak ada pemisahan antara aktivitas perdagangan dengan kewajiban mendakwahkan Islam kepada pihak-pihak lain. Nabi Muhammad sendiri memimpin ekspedisi dagang ke Syam ketika beliau belum mendapat risalah. Selain itu, dalam aktivitas perdagangan ini, golongan raja dan kaum bangsawan lokal umumnya terlibat di dalamnya. Tentu saja ini sangat menguntungkan, karena dalam tradisi lokal apabila seorang raja memeluk Islam, maka dengan sendirinya akan diikuti oleh mayoritas rakyatnya. Ini terjadi karena masih kuatnya penduduk pribumi memelihara prinsip-prinsip yang sangat diwarnai oleh hirarki tradisional.
Hakikat Manusia, Tuhan