BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Buku ini disusun sebagai kompas strategis yang membedah esensi kepemimpinan—mulai dari cara membangun visi transformatif, mengelola perubahan, hingga mengintegrasikan teknologi seperti Artificial Intelligence sebagai mitra strategis organisasi. Melalui perspektif yang komprehensif, penulis berupaya menghadirkan jembatan antara teori kepemimpinan yang kokoh dengan praktik nyata yang relevan dalam konteks pendidikan, pemerintahan, dan ekosistem global saat ini.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Buku ini memulai pembahasan dengan konsep dasar administrasi di Bab 1, menelusuri jejak sejarah perkembangan ilmu administrasi, mengklarifikasi terminologi, dan mendefinisikan perbedaan antara administrasi dengan ilmu administrasi, serta mengeksplor unsur-unsur yang melandasi administrasi. Dalam Bab 2, fokus beralih pada perkembangan dan konsep ilmu administrasi negara, membahas berbagai paradigma, definisi, dan prinsip-prinsip dasar. Pembaca akan diperkenalkan dengan model, landasan, kedudukan, dan aspek-aspek khusus dari ilmu administrasi negara, termasuk tingkatan dan peranannya dalam struktur pemerintahan. Bab 3 menyoroti teori-teori penting dalam administrasi negara, seperti pendekatan klasik, Teori Birokrasi Max Weber, dan Teori Ilmiah Frederick Taylor, serta memberikan gambaran tentang bagaimana human relations dan ilmu perilaku mempengaruhi bidang ini. Bab 4 mendalami fungsi-fungsi kunci administrasi negara, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, hingga pengawasan, memberikan gambaran tentang bagaimana administrasi negara berfungsi dan beroperasi. Sejarah panjang administrasi negara diungkap di Bab 5, mengajak pembaca melalui evolusi bidang ini dari masa awal hingga kontemporernya, termasuk berbagai tantangan dan reaksi terhadap tantangan tersebut. Etika dan profesionalisme menjadi pusat perhatian di Bab 6, dengan diskusi mendalam tentang prinsip-prinsip etika dalam administrasi negara dan pentingnya etos kerja yang baik dalam pelayanan publik. Bab 7 membahas tantangan-tantangan modern yang dihadapi oleh administrasi negara dan bagaimana inovasi, terutama dalam teknologi informasi, berperan dalam menghadapinya. Terakhir, Bab 8 mengkhususkan pada administrasi negara Indonesia, membahas sistem administrasi publik di negara tersebut, era good governance, reformasi birokrasi, desentralisasi, serta dinamika otonomi daerah dan efisiensi. Secara keseluruhan, buku ini memberikan pandangan komprehensif tentang ilmu administrasi negara, dari teori dasarnya hingga penerapannya dalam konteks nyata.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Buku Fundamental dalam Administrasi Publik ini menyajikan kajian mendalam mengenai teori-teori administrasi publik serta aspek aspek penting yang mempengaruhi implementasi kebijakan publik. Pembahasan dimulai dengan teori-teori dasar administrasi publik, dilanjutkan dengan peran birokrasi yang menjadi tulang punggung sistem administrasi publik. Buku ini juga mengeksplorasi konsep kebijakan publik, manajemen sumber daya manusia dan keuangan publik, serta pelayanan publik yang efisien dan akuntabel. Selain itu, buku ini mengangkat isu etika dalam administrasi publik, pentingnya akuntabilitas, serta bagaimana desentralisasi dan otonomi daerah mempengaruhi sistem pemerintahan. Di era digital, administrasi publik menghadapi tantangan dan peluang baru yang dibahas dalam konteks penggunaan teknologi untuk meningkatkan kinerja birokrasi. Buku ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antar sektor dalam penyelenggaraan administrasi publik yang efektif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Semua topik ini disusun secara sistematis untuk memberikan pemahaman yang komprehensif bagi pembaca mengenai dinamika administrasi publik modern."
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Buku "Perilaku Organisasi Kontemporer" menyajikan analisis mendalam mengenai dinamika lingkungan organisasi saat ini, yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan globalisasi. Di dalamnya, dibahas bagaimana kepribadian individu dan perilaku kerja berkontribusi pada efektivitas tim dan organisasi secara keseluruhan. Penulis juga menyoroti pentingnya nilai, sikap, dan kepuasan kerja sebagai faktor penentu dalam menciptakan lingkungan kerja yang produktif. Motivasi dalam organisasi dijelaskan melalui berbagai teori dan praktik yang dapat meningkatkan kinerja karyawan, sementara peran kelompok dalam mencapai tujuan organisasi juga dieksplorasi secara komprehensif. Selanjutnya, buku ini mengupas tuntas konsep budaya dan iklim organisasi, serta bagaimana kedua elemen ini memengaruhi perilaku anggota organisasi. Struktur organisasi dibedah untuk menunjukkan relevansi dan tantangannya dalam konteks modern, serta pentingnya fleksibilitas dalam menghadapi perubahan. Dengan pendekatan multidisipliner, "Perilaku Organisasi Kontemporer" memberikan wawasan yang bermanfaat bagi manajer, pemimpin, dan profesional HR untuk menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan inovatif, serta meningkatkan kesejahteraan karyawan demi mencapai tujuan organisasi yang berkelanjutan.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Buku ini adalah panduan komprehensif yang mengulas berbagai konsep dan teori dalam administrasi publik, membantu pembaca memahami dasar-dasar pemerintahan modern dan bagaimana teori-teori ini berinteraksi dengan praktik administrasi publik. Setiap babnya menyajikan wawasan mendalam tentang topik yang berbeda, membantu pembaca memahami dasar-dasar teori yang membentuk administrasi publik. BAB I: "Konsep dan Teori Administrasi" Bab pertama membuka buku dengan memperkenalkan konsep dasar administrasi publik dan teori-teori yang mendukungnya. Pembaca akan mendapatkan pemahaman awal tentang lingkup dan pentingnya administrasi publik dalam pemerintahan modern. BAB II: "Teori Ilmu Administrasi Negara/Publik" Bab kedua menggali berbagai teori ilmu administrasi negara atau administrasi publik, membantu pembaca memahami perkembangan ilmu ini seiring waktu dan dampaknya pada praktik administrasi publik. BAB III: "Teori Kontrol Politik Birokrasi" Bab ketiga membahas teori-teori yang terkait dengan kontrol politik terhadap birokrasi, memberikan wawasan tentang bagaimana pemerintah dan lembaga legislatif mengatur dan mengawasi birokrasi. BAB IV: "Teori Politik Birokrasi" Bab keempat mengulas aspek politik dalam birokrasi, termasuk dinamika kekuasaan dan pengaruh politik pada pengambilan keputusan birokratik. BAB V: "Teori Keputusan" Bab kelima membahas teori-teori tentang pengambilan keputusan dalam konteks administrasi publik, menyoroti metode dan faktor yang memengaruh proses tersebut. BAB VI: "Teori Pilihan Rasional" Bab keenam mengeksplorasi teori pilihan rasional dalam administrasi publik, yang menekankan pada aspek-aspek analisis biaya-manfaat dan pengambilan keputusan yang rasional. BAB VII: "Teori Institusi Publik" Bab ketujuh mengulas teori-teori yang berfokus pada peran institusi publik dalam pemerintahan, termasuk cara institusi memengaruh perilaku pemerintah. BAB VIII: "Teori Postmodern" Bab kedelapan membahas teori postmodern dalam administrasi publik, menjelaskan bagaimana pemikiran postmodern memengaruhi pendekatan administratif kontemporer. Seluruh buku ini melanjutkan hingga BAB XV, yang membahas "Lingkungan Administrasi Publik dan Lokalitas, "yang telah dijelaskan sebelumnya. Dengan membaca buku ini, pembaca akan mendapatkan pemahaman yang kokoh tentang berbagai teori yang memengaruhi administrasi publik, dan bagaimana teori-teori ini dapat digunakan dalam konteks administratif yang berbeda
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Buku Ajar: Ekonomi Publik menyajikan panduan mendalam bagi mahasiswa dalam memahami konsep-konsep fundamental ekonomi publik. Melalui materi yang lengkap dan terstruktur, buku ini memastikan bahwa mahasiswa dapat memahami dengan baik pengertian dan ruang lingkup ekonomi publik. Dalam pembahasan mengenai peran pemerintah, buku ini memberikan pemahaman mendalam mengenai alokasi, distribusi, dan stabilisasi sumber daya, memungkinkan mahasiswa untuk menganalisis secara kritis peran pemerintah dalam konteks ekonomi. Buku ini juga membahas dengan jelas mengenai barang publik dan barang swasta, serta teori-teori ekonomi publik seperti Teori Pigou, Bowen, Erick Lindahl, dan Samuelson. Diskusi mendalam tentang kegagalan pasar dan campur tangan pemerintah memberikan wawasan yang kuat tentang respons pemerintah terhadap ketidaksempurnaan pasar. Dengan bahasan singkat namun informatif, buku ini menjadi pedoman penting bagi mahasiswa ekonomi publik untuk memahami eksternalitas dan peran pajak dalam perekonomian.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Perkembangan masyarakat membuatnya perlu untuk menemukan prinsip panduan baru dari waktu ke waktu. Penulis ingin mengetahui hal ini dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini, antara lain: Apakah informasi yang baik itu? Bagaimana kita bisa mencapai perdamaian yang adil? Budaya dan subkultur apa saja yang ada di sana? Bagaimana masa depan Islam di Eropa? Apakah inti dari agama Yahudi, Kristen dan Islam? Bagaimana sebuah negara miskin menjadi kaya? Apa peran alam dan pemanasan global bagi kelangsungan hidup kita? Apa saja skenario untuk masa depan dunia? Apa saran politik untuk masa depan yang lebih baik? Apakah makna kehidupan? Nasihat atau aturan hidup apa yang bisa kita berikan kepada diri kita sendiri untuk menjadi sehat dan bahagia? Menurut penulis, membuat pilihan yang tepat pada saat-saat krusial tertentu (yang disebut "junctions") adalah sangat penting.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
In the face of global challenges and changes - some may even say because of them - one major dilemma looms large for citizens and leaders worldwide: how can we ensure that our countries address these challenges successfully? This book demonstrates that the answer can be found in a better match between the nature of modern bureaucracy and the spirit of modern democracy, as well as by improving methods and ideas for what the author terms 'cleaver governance' and better governability. Moreover, it suggests potential directions for improving governability and public management against the backdrop of the tension between bureaucracy and democracy that has given rise to increasing mistrust of and lack of confidence in public institutions. Building Strong Nations enriches the discussion about moving modern nations forward despite major problems such as the clash of ideologies, the overburdening of and expectations from public administration, and the growing instability in world economics and international relations.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Currently, liberal democracy is threatened by authoritarian movements, not just in the United States but also in societies around the world. The liberal arts helps to arrest these tendencies because of the support by citizens in liberal democracies for the values the latter shares with the liberal arts: autonomy and freedom. Autonomy is the capacity to make reasoned decisions about a host of political, social, and personal matters—independent of external parties who seek to control our lives for the sake of their ends and at the cost of our freedom. But autonomy depends on people being able to enter into discussions—what I call discourses of mutual respect—designed to test ideas in public against facts and good reasons. This discourse is facilitated by an enlarged culture through which individuals identify what they hold in common and by which individuals work to understand their differences. Now, authoritarian regimes reject autonomy because it empowers citizens to designate the boundaries and content of political authority. Liberal democracies, in contrast, embrace autonomy because it is the basis for the political institutions that provide civic equality—and through it—the freedom of citizens to control their destiny. Yet, ironically, an enlarged culture and the discourse of mutual respect that, together, sustain autonomy are not likely to be produced within a highly partisan political atmosphere of a liberal democracy. Still, a liberal democracy is open to the importation of these elements from the liberal arts. Thus, saving liberal democracy from authoritarianism depends on a robust liberal arts presence in society. What reforms of the liberal arts are needed to make this objective possible? Much rides on the answer to this question. For the fact is that if the liberal arts recedes to a whisper, liberal democracy is likely to be defeated by the authoritarian’s bluster-filled and always nihilist roar.
BookOpen AccessMetadata saja
2025•Koleksi Perpustakaan
Mungkin di dunia zaman ini diperlukan satu informasi. Untuk mendapatkan informasi itu tidak mudah, diperlukan intelijen yang handal dan terlatih. Intelijen berperan penting dalam mengumpulkan, menganalisis, dan memanfaatkan informasi untuk kepentingan pengambilan keputusan strategis. Di era informasi yang semakin kompleks ini, kemampuan intelijen menjadi kunci untuk navigasi di tengah ketidakpastian dan ancaman yang terus berkembang. Intelijen dituntut untuk bisa mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, baik secara terbuka maupun tertutup, dengan tetap memperhatikan aspek etika dan legalitas. Namun, pengumpulan informasi saja tidak cukup. Intelijen juga harus mampu mengolah dan menganalisis informasi mentah menjadi produk intelijen yang akurat, relevan, dan tepat waktu. Berbagai teknik analisis seperti analisis link, analisis time event, dan analisis konten digunakan untuk menghasilkan wawasan yang actionable. Hasil analisis intelijen kemudian dimanfaatkan untuk mendukung pengambilan keputusan dan perencanaan strategis di berbagai bidang, mulai dari keamanan nasional, diplomasi, bisnis, hingga penanganan krisis. Intelijen menjadi mata dan telinga para pemimpin untuk mengantisipasi peluang dan ancaman yang mungkin tidak terlihat di permukaan. Namun, di era digital seperti sekarang, intelijen juga menghadapi tantangan baru. lsu privasi, keamanan siber, dan disinformasi menjadi problema yang harus dihadapi. Intelijen dituntut untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan memanfaatkannya secara cerdas, tan pa melanggar batas-batas etika dan hak asasi manusia. Oleh karena itu, pengembangan kapasitas intelijen yang profesional, berintegritas, dan adaptif menjadi keniscayaan. Diperlukan pendidikan, pelatihan, dan pemutakhiran kemampuan secara berkelanjutan agar intelijen bisa terus menjadi garda terdepan dalam mengamankan kepentingan nasional di tengah dinamika dunia yang kompleks ini.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Presiden meresmikan 11 Pabrik Petrokimia sekaligus Tol JakartaCikampek. Swasta diberi peluang membangun ruas baru, sebab dana pemerintah terbatas. CibitungCikampek segera dibangun.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Human rights violations by the Indonesian military against the Muslims in Tanjung Priok in 1984; accounts written based on the interview with the victims and victims' family.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Peta ideologi umat Islam dalam perhelatan pilpres 2019 terpolarisasi menjadi tiga kelompk, yaitu memilih basis agama, memilih dengan basis kompetensi, dan memilih secara apatis-pragmatis. Pada kelompok pertama lebih didominasi oleh pesantren-pesantren salafiyah-tradisional, pada kelompok kedua oleh pesantren modern. Sedangkan untuk kelompok ketiga lebih banyak didominasi oleh pesantren salafiyah-tradisional, terutama yang berdomisili di perdesaan. Secara umum dapat dikatakan bahwa, pilihan dan peta umat Islam dalam bingkai demokrasi masih dipengaruhi oleh pilihan-pilihan politik yang cenderung pragmatis. Sedangkan bagi kelompok kedua, beranggapan bahwa demokrasi berasal dari Barat dan tidak dikenal dalam dunia Islam. Oleh karena itu demokrasi harus ditolak. Ketika demokrasi dimaknai pemberian suara orang per orang dalam pilpres misalnya, maka suara orang saleh akan sana nilainya dengan orang yang tidak saleh. Dalam pandangan mereka, sistem demokrasione man one vote tidak sesuai dengan politik luhur Islam.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Chief Executive Officers (CEOs) have become the cultural icons of the 21st century. Figures like Steve Jobs and Mark Zuckerberg are held up as role models who epitomise the modern pursuit of innovation, wealth and success. We now live, Bloom and Rhodes argue, in a ‘CEO society’ – a society where corporate leadership has become the model for transforming not just business, but all spheres of life, where everyone from politicians to jobseekers to even those seeking love are expected to imitate the qualities of the lionized corporate executive. But why, in the wake of the failings exposed by the 2008 financial crisis, does the corporate ideal continue to exert such a grip on popular attitudes? In this insightful new book, Bloom and Rhodes examine the rise of the CEO society, and how it has started to transform governments, culture and the economy. This influence, they argue, holds troubling implications for the future of democracy - as evidenced by the disturbing political rise of Donald Trump in the US - and for our society as a whole.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Buku ini berisi kumpulan artikel yang dipublikasikan dan merupakan bagian dari output Tugas Akhir untuk Mata Kuliah Tata Kelola Pemerintahan Perkotaan, dengan skema mahasiswa mengerjakan secara berkelompok dan diseleksi secara ketat. Buku ini memberikan ulasan tentang fenomena tata kelola pemerintahan berbasis smart city yang berkembang hingga abad ini. Selain itu, buku ini mencoba untuk menuangkan telaah kritis terhadap optimalisasi konsep smart city yang diadopsi oleh pemerintah terutama studi kasus Pulau Jawa. Beberapa implementasi smart city pada sektor pemerintahan yang disajikan pada buku ini diharapkan menjadi gambaran khususnya bagi penyelenggara pemerintah bagaimana penerapan konsep smart city di daerah di Indonesia. Mengembangkan smart city di masing-masing lokalitas bukanlah dengan menjadikan IT dan solusi teknologi sebagai tujuan akhir-misalnya dengan membuat command center yang mewah namun miskin fungsi, tetapi lebih fokus kepada inovasi dan terobosan untuk menyelesaikan masalah prioritas dan atau mengembangkan sektor unggulan daerah, berbasis data yang terintegrasi, dan kolaboratif antar sektor. Buku ini terdiri dari 9 artikel yang membahas mengenai implementasi smart city dari berbagai elemen, seperti smart government, smart living, fenomena urban sprawl, hingga pelayanan publik era digital yang mendukung keberhasilan penerapan konsep smart city di sebuah kota.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Buku bunga rampai ini merupakan hasil penelitian tahun 2016 yang dilakukan oleh Tim Otonomi Daerah di Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI sebagai upaya untuk mengkaji isu-isu politik lokal, khususnya desentralisasi fiskal asimetri, yang berjudul Politik Pengelolaan Dana Otonomi Khusus dan Istimewa. Kasus yang diambil dalam kajian ini adalah pengelolaan dana otsus di Aceh dan Papua Barat, serta pengelolaan dana istimewa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ketiga daerah ini memiliki kekhususan dan keistimewaan karena memiliki skema pengelolaan keuangan yang berbeda dari daerah otonomi umum lainnya. Namun, dalam implementasinya pengelolaan dana otsus dan istimewa ini belum optimal untuk memberikan efek yang positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Bahkan dari Indeks Ratio Gininya justru terjadi kesenjangan yang cukup tinggi sejak adanya dana otsus dan dana istimewa ini. Akar permasalahannya adalah di dalam implementasi dana otsus dan istimewa masih memberikan peluang adanya penyalahgunaan dalam pengelolaan dana dikarenakan belum adanya master plan dan payung hukum yang jelas. Oleh karena itu, bunga rampai ini memandang penting untuk mengkaji lebih mendalam masalah politik kebijakan pengelolaan dana otsus dan istimewa dalam rangka memberikan rekomendasi kebijakan yang bisa memperbaiki kualitas pengelolaan dana otsus dan istimewa. Bunga rampai ini juga secara khusus memaparkan aspek politik sekaligus aspek administrasinya. Selain itu hasil kajian dari bunga rampai ini juga merupakan hasil studi kualitatif melalui penelitian lapangan dan FGD, serta penelusuran dokumen-dokumen penting yang relevan. Melalui bunga rampai ini, diharapkan dapat memberikan kemanfaatan yang luas baik bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dan para stakeholder terkait dalam rangka mewujudkan tujuan esensial otonomi, otonomi khusus dan istimewa dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal secara substantif.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Buku ini merupakan hasil tugas akhir penulis saat menjadi peserta PPSA XX, 2015. Buku ini juga merupakan sebuah refleksi yang menggambarkan bagaimana afitas positif dan negatif antara Pancasila , Hak Asasi Manusia dan Ketahanan Nasional.
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Kita sebagai bangsa Indonesia belum juga mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat Indonesia secara merata. Kemakmuran negeri ini hanya dinikmati oleh segelintir orang. Oleh karena itu, kita membutuhkan pemimpin yang masih memiliki keinginan luhur untuk menyejahterakan rakyat, bukan menyejahterakan diri sendiri maupun keluarganya. Pempimpin semacam itu semakin hari semakin sulit ditemukan di tengah masyarakat yang lebih sibuk berebut untuk mendapat, bukan untuk berbuat. Jokowi terbukti telah banyak melakukan pembangunan di segala bidang dan tempat hingga Papua. Jokowi juga terbukti tidak memperkaya diri selama menjabat sebagai presiden. Jika kepemimpinan mengalami pergantian di tengah jalan, semua sumberdaya yang sudah dikerahkan untuk hasil yang berjangka panjang, dapat saja terbengkalai karena belum terbentuknya budaya estafet antargenerasi kepemimpinan dalam budaya politik kita dewasa ini. Bagaimanapun juga, Indonesia membutuhkan stabilitas pemerintahan untuk menjamin kesinambungan itu secara efektif. Oleh karena itulah, Indonesia butuh Jokowi!
BookOpen AccessMetadata saja
2024•Koleksi Perpustakaan
Tidak ada tokoh yang menjadi bahan perbincangan yang melebihi Jokowi dalam beberapa waktu terakhir ini. Hampir setiap hari media massa mainstream menampilkan berita mengenai aktivitas Presiden RI 2014–2019 ini. Media sosial juga tak jarang menempatkannya sebagai trending topic. Buku yang mengupas sosok Jokowi juga tak kalah banyak. Pertanyaannya, kenapa Jokowi bisa menjadi begitu disayang media (media darling)? Tidak dapat dimungkiri lagi, Jokowi begitu populer di kalangan media nasional dan internasional. Tidak hanya dikenal sebagai pemimpin, Jokowi juga dikenal sebagai pribadi yang horizontal, inklusif, dan sosial. Buku Media darling ala Jokowi mengajak Anda untuk mengintip apa rahasia Jokowi sehingga menjadi pribadi yang disukai oleh kalangan media. — Hermawan Kartajaya Founder & CEO MarkPlus, Inc Buku ini penting dibaca untuk praktisi dan akademisi komunikasi, kaya pengalaman dan menarik untuk diikuti. — Prof. Dr .Ravik Karsidi, M.S. Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS), mengajar S2 Manajemen Komunikasi. Lewat buku ini, penulis mengupas tuntas berbagai kiat yang membuat Jokowi menjadi media darling. Oleh karena itu, para pejabat, politisi, atau siapa pun yang ingin menjadi kesayangan media, sepatutnya mempelajari aneka jurus media darling dalam buku ini. — Y. Bayu Widagdo Pemimpin Redaksi SOLOPOS (2010–2012), Wakil Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia/Pemimpin Redaksi bisnis.com Buku yang mengungkap lugas hubungan Pak Jokowi dengan media. Sebuah gambaran interaksi unik yang tampak di permukaan, namun mampu menyampaikan kedalaman pesan pada khalayak secara sederhana. Selamat memaknai dan dimaknai.” — Sruti Respati Pekerja Seni